Kamis, 27 Desember 2007

Bahasa Kalbu

Assalamualaikum wr. wb.

Salam dariku dari lubuk hatiku.
Salam untukmu dari yang terdalam.
Salam dariNya, untukmu seorang.
Salam, 1001 salam untuk yang tercinta.

  Wahai kekasih, inilah bahasa hati, dari bahasa kalbu yang abadi. Masih ingatkah kau wahai sobat, bahwa cinta adalah seruan jiwa, dan jatuh cinta adalah tujuan hidup
  Mungkin itulah kalimat yang akan aku  berikan untukmu, wahai nash, yang oleh sebagian darimu mungkin menganggapnya lain. 
  Wahai kekasih, mugnkin semilr angin yang berhembus, kau sangkakan sama dengan butir-butir air yang mengalir. Mungkin pula dari apa yang kau rasa, kau sangakakan itu hanyalah sebuah patung derita, dan tak lain hanyalah pengumbaran nafsu yang penuh dosa. Mungkin sekarang jika kau lihat aku sedang melamun sendiri, kau pun menyangkakan aku, seperti tulang belulang manusia yang berkelamin, atau mingkin kau kira aku hanyalah seorang manusia yang tak pernah mau beranjak dari tempat dudukku, walau hanya untuk sekedar mencuci muka. Mungkinkah itu wahai kekasih.....
Adakalanya...
Saat aku bergerak dan datang bersama ratusan bintang kemintang, saat aku melangkah bersama serbuan angin malam, ketika aku menjungkalkan kepalaku bersama butiran-butiran tashbih, kau sangkakan itu hanyalah sebuah bentuk penuturan air mata yang mengharapkan balas jasa. Mungkin pula, saat aku mencoba mereguk manisnya secangkir kopi yang kubuat, orang-orang akan mengatakan hanya kepahitan yang dia rasakan. 
Mungkin pula, 
ketika aku harus menelan butiran beras yang sudah memutih oleh panasnya air, 
kau akan menyangka, aku telah menambahkan berat tubuhku. 
Mungkin, tatkala tetesan air hujan yang membasahi kepala dan ragaku, orang akan mengatakan aku telah bodoh, aku telah gila dan aku telah menyiksa diri. Namun ketika pula itu, 
aku merasakan kesejukan yang tiada tara atas rahmat Allah dengan kasihnya, 
bagi semua makhluknya. 
Adakalanya saat aku harus rela mengangkat tanganku setinggi bahu, untuk melakukan takbir,
aku akan dikatakan telah merubah nafsuku menjadi keindahan. Dan seketika aku akan lepas landas bagai jetz, dan akan kembali seminggu sesudahnya.
Namun aku telah lelah.
Aku telah berzina dengan harapanku. 
Aku telah membakar tembikar hitam agar menggauli kesendirianku.
Dan aku telah menanam ribuan pohon kuldi, untuk menarik sang Adam dengan Hawanya.
Kekasih....
"....Untuk dan karena cinta, adalah suatu bentuk pemanjaan diri yang aneh. Adakalanya, saat aku tertipu dan dijahati, namun aku dapat tertawa, agar mereka mengira, aku tidak tahu, bahwa aku telah ditipu dan jahati....." (Gibran - Sayap-sayap Patah).  
Kemudian aku menuliskan suatu persembahan dari hati, tentang bahasa kalbu.
".... Suara harapan bukanlah pesona, akan tetapi, harapanku bersuara saat pesona terlintas dimata. Suara hati bukan berarti hakiki, namun hakiki bersumber dari hati. Seruan jiwa bjukan berarti tanpa batas akan tetapi, batas mencintai dan dicintai adalah seruan jiwa. Kata cinta bukan sekedar pemanis saja, akan tetapi, hanya dengan dan karena cintalah, kata-kata berubah menjadi terasa manis. (www.azizgabussaridin.blogspot.com)
Mungkin demikianlah untuk bahasa kalbu yang bisa aku ungkapkan untuk hari ini.
Mudah-mudahan, untuk waktu kini dan sampai nanti, aku masih bisa menuliskan sesuatu untukmu, dan untuk kalian semua.
Amin.
Filippo Inzaghi (Super Pippo).Wassalamualaikum wr. wb.

0 komentar: