Diajeng……
Kini kepingan rindu telah membatu. Dan aku pun tak tahu lagi.
Apakah akan kutanam, atau akan kulemparkan saja ke air yang membanjiri wilayah ini.
Atau apakah akan aku wariskan kepada seseorang yang mau merawatnya.
Aku enggak pernah mau memiliki sesuatu yang buatku malah akan menjadikan fitnah.
Aku hanya menginginkan keinginanku, yang membuat aku selalu merindu.
Tapi sekarang aku sudah lupa dimana aku menaruh rindu itu kemarin.
Seingatku aku masih berharap kekasihku mau menerima rindu itu.
Namun yang terjadi hanya sebatas kata.
Padahal aku sangat berharap kekasihku akan senang dan membuatku tenang.
Seketika itu aku sangat membutuhkan dirinya.
Dan seketika itu pula aku sangat ingin menemuinya, yang meskipun jika aku tidak bisa menemuinya, mendengar suara merdunya aku juga sudah cukup puas.
Atau paling tidak aku bisa membaca kalimat-kalimat indahnya yang dia kirimkan kepadaku,
dan hanya kepadaku.
Diajeng….
Namun sesaat itu juga aku malah menerima kriman yang membuatku semakin tak karuan.
Aku malah mendapati kiriman yang membuatku “gila”. Kamu tahu kenapa?
Karena saat itu aku memakan semua rindu yang kupunya.
Aku enggak tahu lagi apa yang harus aku lakukan,
karena aku sendiri tidak tahu bagaimana aku harus memakan rindu itu,
karena aku yang setiap harinya makan sepiring nasi dan sepiring mie instant saja,
masih merasakan kelelahan, lalu bagaimana jika aku hanya memakan rasa rindu ini..?
Dan malah bukan hanya itu saja. Aku hanya menaruh rindu ini untuk kekasihku.
Tetapi jika rasa rindu itu sudah harus hilang, larut, hanyut dalam hatiku.
Bagaimana aku harus mewariskan rindu ini nantinya…..
dan apakah sebait rasa rindu akan hanya tinggal menjadi sejarah yang terlupa…?
Diajeng….
Saat ini aku mungkin mencari seseorang yang dapat mengerti aku.
Seseorang yang akan mau memahami tentang perasaanku.
Tentang rasa rindu, cinta dan harapan, serta kepercayaan.
Rasa percayaku sudah mulai menipis, seiring terkikisnya permukaan hati yang hanya aku percayakan untuk kekasihku tercinta dan tersayang.
Aku juga sudah mulai ragu, dan sudah terlalu lelah untuk mampu memahami lagi arti perasaan manusia. Sebab aku sendiri tidak pernah ada yang mampu memahami.
Aku teringat kembali pelajaran yang aku terima. Yang mana dalam peristiwa itu disebutkan “….orang lain akan bisa mengerti tentang kisah kita ini.
Namun mereka tidak akan mampu mencapai dan memahami kisah kita ini…...”
Karena kisah ini kita yang rasa, kita yang menjalankan dan hanya kita yang sanggup memahami tiap bagian-bagiannya.
Diajeng…
Rasa sakit yang selalu menyelimutiku ini,
akan terasa sangat indah saat kita melewatinya berdua nantinya.
Sayang… jangan kau lihat aku dengan perasaan matamu,
yang tak lain hanya akalmu saja yang menemuinya.
Tapi coba lihatlah aku dengan semua yang aku miliki,
lihatlah dengan perasaan cintamu yang “Hak”
dari sang maha Benar, dari sang pemilk_Nya yang Agung.
Coba lihatlah dengan rasa Syukurmu yang paling dalam,
bahwasanya apa-apa yang ada dalam setiap nafas dan denyut nadi manusia itu,
tak tenilai harganya.
Sehat itu mahal, Sehat itu nikmat, sehat itu Rizky, dan sehat itu syukur……
Diajeng…
Sudah sampaikah kamu melihatku sampai ketingkat itu…..?
Diajeng….
Mungkin itu dulu rasa syukur yang aku tuliskan buatmu untuk kali ini.
Dan selanjutnya aku akan ada disampingmu untuk menyentuhmu dan memelukmu.
Aku akan menemuimu untuk rasa cinta dan rinduku.
Aku akan bersamamu untuk rasa sayang dan janjiku……