Kini ada yang salah dalam hal ingatan yang aku bawa sejak aku lahir.
Aku enggak ingin tertawa sendiri dan juga ditertawakan.
Sementara waktu terus berjalan dan menawan kebahagiaan dengan keheningannya dan menertawakan yang tidak mau lagi mengikuti laju rodanya.
Aku tertawa, tapi aku tak sanggup lagi untuk menghentikan tawa ini, seperti tangis yang malah akan menimbulkan isak yang dalam jika harus terhenti sebelum waktunya, dan juga akan kembali menimbulkan isak tangis yang dalam jika terlarut-larut dalam tangis.
Allah, apakah aku masih waras seperti pertama kali Kau menurunkan Adam dalam keadaan telanjang dan belum pernah terkontaminasi dengan dunia yang penuh dengan kedustaan ini, sementara disana-sini orang-orang ramai mempermasalahkan siapa yang waras dan siapa yang tidak kala melihat kenyataan, kesanggupan manusia untuk melihat kenyataan dengan mata dan akalnya?
Muhammad, apakah aku termasuk kaum_Mu yang akan mendapat Syafa’at_Mu nanti kala kumenanti saat pertanggung jawaban, sementara aku malah hanya mementingkan diriku sendiri untuk seoarang gadis yang juga salah seorang umat_Mu yang Sholih?
Sahabat, apakah aku berhak memperoleh kepercayaan dari orang lain seperti beliau Rosulullah yang sangat percaya kepada Kalian, sementara aku hanya percaya pada diriku sendiri?
Wahai Syeh, apakah aku juga akan masuk kesurga, seperti Kalian yang sudah dijamin mendapatkan perlakuan yang istimewa dari_Nya sang Khaliq, yang memperlihatkan keagungan_Nya dari yang tampak pada makam-makammu yang selalu penuh sesak oleh para peziarah hanya untuk memaftuhkan do’a mereka dengan soan padamu, walau tidak sedikit dari mereka malah hanya membalikkan maksud dari yang tertuang dengan malah meminta-minta padamu, sementara aku tak lain hanyalah manusia hina yang penuh dengan nafsu dan angkara murka dan kemalasan yang tak lain semua itu hanyalah perilaku iblis-iblis penyesat manusia?
Wahai guru, apakah aku juga akan masih mendapatkan hak sebagai murid-muridmu yang lain, yang setiap kali akan selalu mengamalkan ilmunya darimu, dan selalu patuh padamu dan takkan rela orang lain menghinamu barang sekecap, sementara aku hanyalah bekas muridmu yang selalu ingkar dan malah meragukan ilmumu dan malah menjadi guru bagi orang-orang lain yang belum mampu menerima semua ilmu dari guru yang kudapat?
Wahai orang tua, kedua orang tuaku, para mertuaku, dan orang-orang yang lebih tua dariku, apakah aku juga akan berhak memperoleh sesuap nasi dan seteguk air darimu, ketika aku dalam keadaan gontai tak berdaya, ketika aku dalam keadaan yang sedemikian beratnya menanggung hutangku kerika kumasih muda, sementara aku telah melupakanmu dan malah menasehatimu seperti guru-guru dipengajian, dan aku telah berpisah dari anak-anakmu yang lain dan malah memilih jalanku sendiri dan malah memberikan nafkahku kepada menantu-menantumu yang tak kau restukan adanya?
____________*bersambung*_____________-