Minggu, 09 Maret 2008

Kekasih

Diajeng…
Senyum yang indah kala membuka hari bersama senyum ramah sang mentari itu,
kini sudah tak kan lagi kulihat.
Wajah indahmu yang menemani setiap mimpiku saat malam semakin dingin menggeluti tubuhku yang kian mengecil ini, kini hanya tinggal kenangan saja.
Suara merdu sang kekasih yang dulu sering kau lantunkan untukku saat ku sakit dan rindu,
kini akan hanya menjadi nyanyian sesat dalam lantunan iblis-iblis pinggir kota ini.
Jalan-jalan yang dulu menanti pijakan langkahmu yang mulia pada setiap paginya,
kini menjadi kubangan-kubangan kotor yang semakin memburuk oleh pijakan-pijakan maut.
Buaian rindu yang dulu selalu menghiasi malam-malam ku dan malammu,
kini hanya menjadi bualan saja oleh nasihat orang-orang baik.
Sudah semestinya…………….

Diajeng…
“….Apalah jadinya arti hidup ini tanpamu…., …kebahagaian itu kini lenyaplah sudah…, dll”.
Dalam setiap masanya diajeng, cinta itu akan membuat hidup kita menjadi indah.
Cinta kita ini pun sudah semestinya akan manjadi baik,
“…sebab cinta yang dibalut dengan air mata, akan bertahan lebih lama dan akan senantiasa indah menghiasi dunia…..”.

Diajeng….
Mudah-mudahan kau akan hidup bahagia sampai akhir masamu nanti. Sementara biarkan saja perasaan cintamu itu berjalan dengan sendirinya dan biarkan ia hidup sendiri menghidupi dirinya sendiri dengan cinta itu. Biarkan rasa cintamu padaku yang masih tersisa itu mengisi tempat tersendiri, jauh direlung hatimu yang terdalam. Agar supaya nanti tatkala malaikat juru pati itu datang dan menanyakannya kepadamu, maka rasa cinta itu yang akan menjawabnya. Perasaan itu hanyalah untuk memenuhi janjimu padaku, dan untuk menjawab keragu-raguanmu atas cinta yang Haqq, cinta yang telah kita lalui bersama dalam suka maupun duka.

Diajeng…
Sebaiknya biar aku saja yang meminta maaf kepadamu, dan kepada semua orang yang telah aku berbuat salah kepadanya, baik yang secara jelas aku lakukan maupun yang transparan telah sengaja aku lakukan, maupun kesalahan-kesalahan yang aku sendiri pun tidak tahu telah membuat hati orang lain sakit dan membenciku. Biar aku merelakan perasaanku ini, yang karena kau pun telah dengan kuat memilih “dia” (yang lain) sebagai penggantiku.

Diajeng…
Sampai saat ini pun aku belum tahu siapa “dia” yang telah terpilih sebagai penggantiku. Bahkan kau sendiri pun tidak pernah memberi tahuku. Sampai saat ini langit masih membisu dan menutup semua tentangmu. Langit hanya mampu mengirimkan mendung dan hujan, yang seolah ia tahu tentang mendung dukaku dan tangis hatiku. Tiap hari aku hanya melihat mata-mata yang seolah turut menangisi kekalah “cinta”.

Diajeng…
Bila memang benar cinta telah kalah… itu berarti aku pun telah kalah. Aku tidak pernah menyerah, apalagi menyerahkan semua yang kucinta dengan begitu saja, apalagi kepada siapa saja. Sampai sekarang pun aku sangat mencintaimu. Aku sangat sayang padamu diajeng…..
Aku sangat rindu kamu.
Aku tidak bisa melepas semua kenangan yang telah kita buat.
Aku merasa kebahagiaan itu kini lenyap sudah.
Aku seolah ingin membuang jauh semua kenyataan yang telah membuyarkan mimpiku.

“….Warna seperti menghilang di kota ini. Hitam dan putih masa lalu telah membisu. Semua berakhir disini, tempatku mulai bermimpi. Terasa masih menangis disini. Langkahmu yg telah pergi. Udara kini berubah, di kota mati. Seperti kisah masa lalu kini membisu.
Sayang, coba dengar ku berbisik, dari suaraku yg tak mengering. Hatiku telah mati disini, terdiam dan tak mendengar...”

Diajeng…
Aku selalu dihantui ketakutan. Aku takut tentang hari esok kala kau telah tiada. Aku semakin mengerut kala aku harus terbangun dan sadar tanpamu. Aku semakin menciut nyali kala suatu saat nanti jika aku harus membagi cinta ini kelain hati. Aku sangsi. Aku menyangsikan kehidupanku sendiri kala kau tinggalkan.

Diajeng….
Sungguh, jika seandainya aku diberi lebih oleh Allah unutk semua kecintaan dan keinginan serta yang kau takutkan, maka aku akan mendatangimu dan menjemputmu kala itu pula. Karena aku memang sangat mencintaimu, dan sudah pastilah jika aku bisa, maka aku akan membuatmu bahagia melebihi kebahagiaan yang kau tahu. Karena memang kebahagiaan itu tidak bisa dibeli. Kenahagiaan itu hanya kita yang rasa. Bahkan gambaran tentang kebahagiaan yang diberikan padamu oleh sang pembimbingmu dan olehmu, itu pun tidak akan mampu menjamin bahwa orang yang bergelimang harta itu akan bahagia. Atau juga sebaliknya, bahwa orang hidupnya selalu dengan kemiskinan itu tak kan pernah lepas dari derita dan tidak mungkin sanggup ber-Haji.

Diajeng….
Sungguh indah jika kita mampu menggapai makna atau hakikat dari kebahagiaan itu sayang…. Mungkin akan sama dengan semua yang telah merasakan kebahagiaan saat-saat, detik-detik berjumpa dengan sang Kekasih…..
…….bersambung.







Pati, 090308 (www.azizgabussaridin.blogspot.com)