Salam.
Siang, sore, malam, dini, fajar dan pagi. Mungkin itulah gemerlapnya hari bersama sekerlip kebutaan mata. Ya, adakalanya mungkin ada yang ingin mengganti suatu kemeriahan dengan keterbengkelaian, tatkala hati sedang dirundung duka nestapa.
Sahabat, yang tak terlihat wujudmu, namun tetap kurasakan merdunya suaramu dan indahnya tutur sapamu juga halus dan lembut tatapanmu. Begitulah caranya aku memuji persahabatan kita. Jangan kau sangsikan keberadaanku disampingmu, karena aku memang diciptakan untuk mendampingimu.
Kekaih-kekasihku, sudah seperti biasa dan dari dulu kala, aku pasti selalu mencantumkanmu, dimana aku berada, disaat aku menulis, maupun saat aku tertidur pulas. Jangan kau ragukan tentang rasa yang kusimpan apik, juga jangan kau binasakan indahnya cinta saat menyentuhmu. Karena memang sesungguhnya itulah, yang lahir dari ketulusan hati, yang akan kau ingat dan kau rasakan sampai akhir hidupmu.
Untuk istri-istriku, dimanapun kalian berada sekarang, aku sangat mencintai kalian, sehingga aku pun harus berjuang meski dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki, yang telah digrogoti usia tua, yang telah kuwariskan untuk anak-anakku kelak, yang kubagikan senyumku untuk mereka semua, yang kuamalkan hartaku dijalan Allah, yang kulangkahkan kakiku mengikuti Rosullullah, yang aku baktikan kasihku untuk ibuku (
mak) tercinta, juga buat bapakku (
pak'e) yang sangat aku hormati, dan untuk seluruh keluargaku, yang sedianya sering kali aku bebani dengan rasa ngeri dan hening.
Untukmu,
Memang hidupku ini tak lain adalah sebagai ujianmu dan ujianku sendiri. Jika seandainya aku, dan kamu, telah berhasil menyelesaikan ujian kali ini, maka akan datang ujian yang berikutnya, yang sekiranya akan bertambah sulit juga, karena setiap tingkatan ujian yang telah kita laksanakan, derajat kita pun semakin bertambah, dan ingat Istriku, derajat yang sesungguhnya, bukanlah pangkat atau derajat kita di antara orang-orang, tetapi derajat kita yang sesungguhnya, hanylah derajat kita disisi Allah dan Muhammad.
Diajeng (yang aku memanggil Istriku), hidup ini bukan hanya untuk mencari kesenangan saja, sementara kesenangan yang kau dambakan itu, akan ada setelah kesedihan. Jadi, itulah hidup yang sejati. Ingat sayang, bahwa setiap yang kita cintai, maka akan ada ujian untuk memperolehnya, seperti ketika cinta kita sedang bersemi dulu. Jadi sayangku, jika kau selalu diberi ujian (kepahitan), itu berarti Allah sangat sayang kepada kita, karena Allah selalu memperhatikan kita, dan selalu menguji keimanan kita, supaya kita lekas naik derajat kita disisinya, dan lekas mendapatkan
Nurul Bashiroh.
Agar kau juga ingat sayang, bahwa hidup ini pun adalah belajar,
jadi untuk naik kekalas selanjutnya, kau pun harus menyelesaikan ujianmu sendiri.
Jadi, jika kau tidak mendapat ujian,
artinya kau tidak akan lekas sampai pada derajat yang tertinggi,
karena kua hanya akan terus berada ditingkat terendah,
karena kau tidak pernah diikutkan dalam ujian.
SayangQ, itulah hidup yang sesungguhnya. Dan tujuan akhir dari ujian tadi adalah agar kita lekas sampai pada kelas/derajat tertinggi disisi Allah dan rosullullah. Yaitu, saat kita telah sampai pada tingkat "berserah diri", ma'rifat dateng Allah. Yaitu pula, jalan menuju ke tempat terdekat disisi Allah, atau untuk mencintai Allah.
SayangQ,
berbeda dengan orang-orang yang tidak pernah diuji oleh Allah. Yang artinya, mereka akan tetap pada kelas terendah, dan tidak pernah tahu sekali dengan ma'rifat dan cinta bkepada Allah dan Rosul Muhammad SAW.
Diajeng, itulah yang akan mereka dapatkan didunia, dan akan berbeda dengan apa yang akan mereka dapatkan saat diakhirat nanti.
Mas teringat dengan yang dukatakan oleh ustad Arifin Ilham, bahwa "
......orang-orang yang beriman, hidupnya bukan untuk hidup. Hidupnya bukan untuk mati. Tapi justru mati itulah untuk hidup. Kenapa? Karena mati bukanlah wafat, karena mati bukanlah akhir dari kehidupan ini, tapi awal kehidupan yang sebenarnya, karena mati adalah satu-satunya pintu berjumpa dengan-Nya. Saat-saat paling bahagia, dalah saat-saat berjumpa dengan ysang kekasih....".
Ya... mungkin itulah yang Mas maksud dalm tulisan Mas sebelumnya, yang Mas kirim ke e-mail adikmu Sucipto, tantang
kekasih sejati.
Diajeng, mungkinkah kau akan tahu dengan apa yang mas maksud, terkait dengan kehidupan yang
Hakiki atau sebenarnya..?
Diajeng, mungkin itulah perbedaan antara aku dan kamu. Paling tidak, aku sudah naik kekelas selanjutnya, sementara kamu masih dikelas yang pernah Mas singgahi.
Dan tiap kali Mas ngomong sama kamu, pasti terjadi pertentangan.
Dan ternyata disitulah mungkin kekhilafan Mas.
Mas sering kali ngomong, yang memang yang Mas maksudkan itu, belum masuk tingkatanmu. Makanya diajeng sering kali ngomong "...aku iku beda terus karo kowe...".
Mas harap, diajeng mau mebaca blogernya Mas ini, adalah agar supaya diajeng tahu dan mau menghadapi hidup yang sebenarnya, jangan ingin melarikan diri dari yang ada. Mas tahu, bahwa manusia pasti pengennya yang manis-manis, tanpa pernah berani menghadapi kepahitan hidup, padahal sesungguhnya,
jamu itu pahit, dan kita akan merasakan nikmatnya, setelah merasakan pahitnya jamu tadi.
Dan Allah, ada dalam kepahitan tersebut (
ilmu Ma'rifat).
Sudah ah, Mas capek diajeng. Ini dulu ya, sementara. Mas tahu, ini akan sangat sulit buatmu, karena mungkin kamu sudah bosan dengan apa yang kamu rasakan dulu, dan kamu tidak ingin merasakannya lagi.
Mas tahu diajeng, karena Mas juga lahir dari keluarga yang sangat pas-pasan, dan Alhamdulillah,
Mas telah sedikit tahu, dan Mas lakukan saja hidup ini, seperti ini, dan begini saja.
Karena Mas yakin, Allah itu ada dalam hati Mas kok sayang. Trus beliau Rosullullah Shallallahu Alaihi Wassalam, selalu jadi panutanku.
Diajeng, Mas sayang sama kamu, mas cinta.....banget sama diajengQ ini. Diajneg, baik-baiklah disana. Ya... meskipun kau tidak bersamaku, tapi aku yakin kau akan selalu mencintai mas.
Mas ingat dengan syairnya Ungu yang "Cinta dalam Hati"........
Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa dicintai
Tak mengapa bagiku
Asal kau pun bahagia dalam hidupmu.... dalam hidupmu
Telah lama kupendam perasaan ini
Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku
Mencintaimu pun adalah bahagia untukku...bahagia untukku
Kuingin kau tahu
Diriku disini menanti dirimu
Meski kutunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap
Rasa ini kan abadi untuk selamanya
Dan ijinkan aku
Memeluk dirimu sekali ini saja
Tuk ucapkan Slamat tinggal untuk slamanya
Dan biarkan
Rasa ini bahagia untuk sekejap saja
(Ungu - Cinta Dalam Hati)
Sudah ya diajeng.... Mas mau siaran ni....
Salam.

Pati, 25 Desember 2007,-